
Dwight Lyman Moody (1837-1899), more than any other, can be said to be the founder of the modern mass evangelism movement. While Whitefield and Wesley before him had attracted large crowds, it was Moody who pioneered evangelistic campaigns with a planned itinerary and funding, had meetings booked at specific venues, arranged publicity, introduced the inquiry room and, with Sankey, broke new ground in the use of religious songs.
The Moody family lived in the farming community of North field, Massachusetts, and were left to struggle as best they could after their father died of too much whisky. Their determined mother, a Unitarian by religion, sent her children to school, but the need to earn money often kept young Dwight at home. Such was his lack of education that throughout the rest of his life he was never able to spell properly and sometimes felt ill-at-ease in the company of educated people.
At the age of seventeen he left home and persuaded his uncle to give him a job in his Boston shoe shop. The following year, during revival meetings at the Congregational Church, his Sunday School teacher visited the shoe shop and urged Moody to come to Christ, which he did. The decision was immediate and real, and Moody was a new man. In 1856 he moved to Chicago with an ambition to become rich. He found work as a travelling salesman, joined Plymouth Church and immersed himself in evangelism, often filling the front pews with men he had pulled in from the streets.
Keen to reach children for Christ, he became a Sunday School teacher at the Wells Street Mission and on his first morning rounded up eighteen slum boys from the streets. Though the meetings were frequently noisy, the children enjoyed the talks and the singing, but were specially captivated by Moody's compassion, good humour and winning ways. As the numbers grew to around six hundred, Moody gave up his job to devote himself to full-time evangelism.
He started week-night meetings for both children and adults, and during the day worked as a missionary for the newly-formed YMCA. Eager to win souls for Christ, he became known in Chicago as 'Crazy Moody'. During the years of the Civil War (1861-65) the scope of his ministry widened still further. His Sunday School developed into an Independent Church, on Illinois Street, and as a YMCA worker he held preaching services for the troops at Camp David; later he ministered at the battlefront to the wounded on both sides, as well as to the freed slaves.
In 1862 he took time off to get married to English-born Emma Revell, whom he considered to be a cut above himself; throughout all their life together they were 'so perfectly one... completely wrapped up in each other'. Mrs. Moody often accompanied her husband on his tours, but their first trip to England was taken on doctor's orders. Emma had developed asthma and was advised to take a long sea voyage, so the Moodys took the opportunity to visit the 'Old Country'.
There were a few speaking engagements, mostly in Brethren halls, but the visit had more far-reaching consequences than Moody could have expected, through meeting Harry Moorhouse, a converted pick¬pocket from Lancashire.
The following year, Moorhouse turned up at the Moody home in Chicago and offered to preach at Illinois Street Church. As Moody had to be away, he reluctantly agreed for him to speak at a mid-week meeting. The church was highly impressed with Moorhouse, as his message was different to that preached by the pastor; whereas Moody declared that God hated the sinner as well as the sin, Moorhouse preached from John 3:16 that God loves sinners.
When Moody returned, his prejudice was shattered; the character of
his message had to be revised, and he even learned from Moorhouse how to read and study the Bible. Later that year at a Convention, he told his listeners how they had to 'conquer by love; for if a man has his heart full of love and a little common sense, he will succeed'.
In October 1871 a great fire destroyed much of the city of Chicago, including the Moody's home, the church and the new YMCA building. But Moody saw the hand of God for him in this terrible tragedy, and he felt led to give up the Mission and undertake a much wider ministry.
Feeling dried up inside and lacking in power, he prayed for some weeks that God would 'baptise him in the Spirit'. His prayer was answered one day when he was walking down a street in New York; as in his heart he surrendered to God, he was overpowered-by the Spirit and from that moment his life took a completely different turn.
Continue to D. L. MOODY: American Evangelist Part 2
Categories
- evangelis (3)
- General (1)
- gospel (3)
- Inspirational (2)
- Inspire (1)
- kisah inspirasi (11)
- Life (3)
- Lirik Lagu Rohani (1)
- Love (1)
- money (1)
- prayer (2)
- Umum (3)
- Witnes of faith (6)
- Yang Menarik (1)
Blog Archive
-
▼
2008
(21)
-
▼
September
(21)
- D. L. MOODY : American Evangelist Part 1
- LOVE IS
- Money - When You Feel Enough?
- YOU BET YOUR LIFE !
- THE FIVE FINGERS PRAYER
- John Sung, John the Baptist from China
- Robert Morrison
- Hudson Taylor, Menggerakkan Orang Lewat Doa
- Watchman Nee, The Marthyr Who Affect Christians Today
- Watchman Nee, Pahlawan Iman di Tengah Badai
- Semua Indah Pada Waktunya
- Jaman Nuh (The Day of Noah)
- LOVE
- Lirik: My Best Friend (Hillsong)
- Background cerita lagu "Sentuh Hatiku"
- Mangkok tanpa alas
- Tetaplah Mengasihi
- Aku Meminta, Tuhan Menjawab
- The Donkey
- Kisah di musim dingin
- Latar Belakang Blog: Life Inspiring
-
▼
September
(21)
Category evangelis, gospel, Inspirational, prayer, Witnes of faith
Siapakah John Sung? Ia lahir dengan nama Sung Siong Geh pada tahun 1901 di sebuah desa miskin di propinsi Fukien di Tiongkok Tenggara. Ayahnya pendeta Gereja Metodis. Ibunya buruh tani. Mereka sekeluarga bertubuh lemah dan sering sakit. Sejak kecil Sung sudah berwatak unik. Ia gesit dalam segala hal. Ia keras kepala dan tidak bisa sabar. Ia mudah marah. Ia sering memberontak kepada ayahnya. Ia pernah menjatuhkan diri ke sumur. Ia pernah menabrakkan diri ke buyung besar sehingga buyung itu hancur. Setiap kali ia dicemeti ayahnya ia tidak pernah menangis, ia malah heran bahwa justru ayahnya yang menangis setelah itu. Sung tampak lebih unik lagi di sekolah. Kecedasannya melewati batas wajar. Ia bisa mengingat tiap kata dari tiap buku yang dibacanya. Ia sudah hafal kitab Mazmur, Amsal, dan kitab kitab Injil. Ia suka menulis karangan yang menentang penjajah Jepang. Ia suka ikut ayahnya melayani kebaktian di desa desa lain. Kalau ayahnya sakit, Sung yang baru berusia 12 tahun sudah bisa menggantikan ayahnya menjelaskan Alkitab dari atas mimbar. Pada usia 18 tahun Sung berlayar ke Amerika karena mendapat beasiswa bintang pelajar di seluruh provinsi. Ia belajar kimia di Wesleyan University di Ohio. Untuk ongkos hidup ia bekerja sebagai pembersih sampah dan pembersih mesin pabrik. Ia lulus sebagai mahasiswa nomor satu. Surat kabar di Amerika dan Eropa melaporkan prestasi jenius ini. Namun, Sung tetap gelisah mencari arti hidup. Apa faedah hidupku bagi orang lain? Apa kehendak Tuhan dalam hidupku? Ia bangun pukul 4 setiap pagi untuk mencari kedekatan dengan Tuhan. Ia sering merenungkan cinta Tuhan Yesus memberi makan ribuan orang menurut Matius 14: 13-21. Anak kecil dalam cerita itu memberi lima roti dan dua ikan. Apa yang aku punya untuk diberikan kepada TUHAN? Aku punya sepuluh jari tangan dan sepuluh jari kaki. Itu bisa aku berikan! tetapi bagaimana caranya? Sung termenung memikirkan nasihat Rasul Paulus: "supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah" (Roma 12:1). Sementara itu, studi Sung berjalan terus. Ia diterima di Ohio State University. Program Master of Science ditempuhnya hanya dalam sembilan bulan, padahal ia bersekolah sambil bekerja sebagai pemotong rumput di jalan dan aktif dalam gerakan mahasiswa menentang diskriminasi rasial. Sesudah itu Sung mengambil program doktor. Persyaratan bahasa Prancis dan Jerman dipenuhinya dengan belajar sendiri cukup dalam satu bulan. Ia lulus dengan gemilang dan menjadi doktor ilmu kimia hanya dalam tiga semester. Semua surat kabar Amerika dan Eropa mencatat rekor jenius ini. Banyak perusahaan raksasa menawarkan lowongan kepada Sung. Bahkan pemerintah Jerman membujuk dia untukmengembangkan riset teknologi roket. Sung menolak semua tawaran itu. Lalu ia masuk sekolah teologi. Program tiga tahun di Union Theological Seminary di New York ditempuhnya dalam waktu satu tahun. Namun, sementara itu tubuhnya semakin lemah dengan penyakit asma, paru-paru, jantung. dan khususnya mata. Pada suatu siang Sung mengalami gangguan mental. Ia dirawat di rumah sakit jiwa. Selama 193 hari di rumah sakit itu ia menelaah 1.189 pasal Alkitab dari Kejadian 1 sampai Wahyu 22 sebanyak 40 kali dengan 40 sudut eksegese yang berbeda. Ia keluar rumah sakit sambil membawa 40 naskah eksegese dalam bahasa Inggris dan mandarin. Di sekolah teologi Sung membuat keputusan untuk mengkristalkan pergumulan spiritualitasnya dalam bentuk meninggalkan ilmu kimia lalu menyerahkan jari tangan dan kaki, serta kedua telinga, mata, tangan dan kakinya untuk memperkenalkan Injil di Asia. Ia tahu bahwa sebagai kimiawan pun bisa menjadi saksi Kristus, namun ia memilih jalan lain. Tahun 1927 Sung pulang ke Tiongkok. Ia langsung bergiat dalam perkabaran Injil dan pembinaan kader kader awam sebagai pemberita Injil. Sepanjang tahun ia terus berpergian. Sebab itu, ia tidak mau menikah. Namun, adat kuno keluarga mewajibkan dia menikah dengan seseorang yang belum dikenalnya sama sekali. Dari pernikahan ini lahir lima orang anak, namun Sung hampir tidak mengenal anak-anaknya ini. Kemudian Sung mulai mengabarkan Injil ke negara negara Asia. Pada tahun 1939, ia beberapa kali datang ke Indonesia. Acara pemberitaan Injil ini disebut "Serie Meeting" yang terdiri dari 22 pemahaman Alkitab atau khotbah tiap pagi, petang, dan malam selama tujuh hari. "Serie Meeting" ini diadakan di Surabaya, Madiun, Solo, Magelang, Purworejo, Yogyakarta, Cirebon, Bandung, Bogor, Jakarta, Makasar, Ambon, dan Medan. Khotbahnya diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dan bahasa Jawa. Pokok pembahasannnya bersambung. Cara penyampaiannya jelas, sederhana, dan memikat. Ia sering menggunakan papan tulis dan alat peraga. Sasarannya adalah orang-orang yang belum pernah mendengar berita Injil. Hasilnya memang luar biasa. Ribuan orang dengan setia mengikuti 22 pertemuan itu. Pada tiap pertemuan ribuan Alkitab, nyanyian rohani, dan buku renungan terjual habis. Di tiap kota, gereja-gereja membentuk komite tindak lanjut karena ribuan orang mendaftar untuk mengikuti katekese. Watak Sung sejak masa kecilnya tetap tampak. Ia serba cepat dan tidak sabar. Ketika memasuki ruang yang gaduh ia langsung menggebrak meja sambil berteriak, "Apa ini ruang ibadah atau gedung komedi?" Di tempat ia menginap, dituntutnya suasana sunyi. Ia meminta seisi rumah itu bangun pukul 4 pagi dan berdoa untuk pertemuan "Serie Meeting" hari itu. Ia menolak pemberian atau hadiah dalam bentuk apa pun. Kalau diajak mengobrol atau berbasa basi ia langsung menegur dengan ketus, "Jangan ganggu pikiran saya!" Kekuatan tubuh Sung semakin rapuh. Perang dunia dan kemiskinan yang melanda Tiongkok menekan dia. Berkali-kali ia masuk rumah sakit untuk pengobatan dan pembedahan. Pada tahun 1944 dalam usia 42 tahun Sung meninggal dunia. Di kalangan akademik ia dikenang sebagai kimiawan jenius calon pemenang hadiah Nobel untuk ilamu kimia. Namun, di hati banyak orang lain, ia dikenang sebagai pembawa berita Injil. Generasi masa kini gereja di Indonesia tidak mengenal John Sung. Tetapi sebenarnya banyak di antara kita merupakan buah dari benih Injil yang ditaburkan Sung kepada generasi-generasi pendahulu kita. Ayah dan ibu saya pertama kali mendengar berita Injil pada "Serie Meeting" John Sung di Bandung pada tahun 1939. Ketika itu, saya masih berada dalam kandungan lima bulan. Kemudian ketika masa remaja saya diberi buku oleh seorang "zendeling" yang pulang ke Belanda, yaitu Cornela Baarbe. Buku itu adalah karangannya sendiri. Isinya tentang John Sung. Judulnya, "Dr. Sung Een Reveil op Java" terbitan Voorhoeve Den Haag. Zendeling ini dulunya adalah komite penyelenggara "Serie Meeting" John Sung. Lalu zendeling itu dengan perasaan haru memberikan kepada saya sehelai potret John Sung yang ditandatangani sendiri oleh John Sung. Karangan ini saya tulis sambil memandangi potret itu.Pendeta ini berpenampilan unik. Ia kurus kecil. Rambutnya pendek dan selalu terurai di dahi. Mukanya pucat dan selalu menunduk. Ia selalu berpakaian kemeja putih sederhana model Tiongkok kuno. Ia tidak suka tersenyum sana-sini atau berbasa-basi. Sifatnya ketus dan menyendiri. Ia pemalu. Tapi kalau berkotbah, tiba-tiba ia menjelma menjadi nabi yang berapi-api. Orang datang berduyun-duyun sampai gedung gereja melimpah ruah. Itulah Dr. John Sung dari Tiongkok yang membuat ratusan ribu orang Indonesia pada tahun 1935-1939 menerima Injil Kristus.
Book title: Selamat Berkembang: 33 Renungan tentang Spiritualitas
Author : Dr. Andar Ismail
Publishing : BPK Gunung Mulia, Jakarta 2003
picture: www.amoymagic.com
Category evangelis, gospel, Witnes of faith
On this day two hundred years ago, Robert Morrison boarded the ship, the Trident, in New York to complete his journey to China as the first Protestant Missionary.
He was born in 1782 in Scotland and was brought up in the Scottish Presbyterian Church. He took a dissolute detour from the faith but was converted in 1798 and began to dream of being a missionary. His mother made him promise, however, not to be a missionary while she lived. She died in 1804 and Morrison applied to the London Missionary Society that had been founded in 1795 and was accepted. January 8, 1807 Morrison was ordained in the Scots Church in London. He was appointed for China while still a single man and set sail from England the last day of January, 1807.
The only ships sailing for China belonged to the East India Company. It was the Company's policy not to carry missionaries. Finding no ship bound for China that would carry him, Morrison took passage on board the Remittance, bound for New York. He arrived in New York on April 20. On May 12 he set sail for China. After 113 days at sea, he arrived in Macao on September 4, 1807.
He served for 27 years in China with one furlough home to England. He married Mary Morton in 1809. She died in 1821 when Morrison was 39. He married Eliza Armstrong in 1825. Morrison died nine years later at the age of 52 in his son’s arms in Macao.
After baptizing the first Chinese Protestant Christian on May 14, 1814 (seven years after his arrival!), Morrison wrote prophetically in his journal, “May he be the first fruits of a great harvest, one of millions who shall come and be saved on the day of wrath to come.”
Give thanks today to God for the triumphs of his grace in the lives of ordinary men and women who, by his grace have done amazing things for the glory of Christ. Pause now and be willing to say yes to the stirrings of God in your heart to be a missionary. If he calls, do not stoop to be the CEO of Microsoft or the President of the United States. When Morrison was asked if he expected to have a spiritual impact in China, he answered, “No sir, but I expect God will.”
“We have this treasure in jars of clay, to show that the surpassing power belongs to God and not to us” (2 Corinthians 4:7).
The best source of information on the web for Robert Morrison appears to be at Bablestone. Also visit Pray for China to help you engage today with the work of God in that great land.
Source: http://www.desiringgod.org/Blog/627_200_years_in_china_today/
Category evangelis, gospel, Witnes of faith
Hudson Taylor adalah pendiri China Inland Mission yang sekarang disebut Overseas Mission Fellowship (OMF). Sewaktu ia masih muda ia mendengar suara dari Surga, "Pergilah ke Cina untuk-Ku." Sejak awal Taylor sadar bahwa panggilan yang sulit itu akan tergenapi hanya jika Allah yang bekerja lewat doa. Sepanjang hidupnya ia telah dengan baik dan berhasil membuktikan filsafatnya yang berbunyi, "Hanya lewat doa segala hal dapat dilakukan."
Pada tahun 1851, tidak lama setelah menerima panggilan Tuhan, Taylor tahu ia harus mulai menyiapkan dirinya jika ia mau menjadi seorang misionaris ke Cina. Keluarganya tergolong kelas menengah dan ia tinggal bersama orang tua dan kedua adiknya di rumah yang cantik di kawasan perumahan yang bagus. Sebagai latihan sebelum ia mulai bekerja di ladang Tuhan, ia pindah ke daerah kumuh dan tinggal di antara orang-orang miskin. Ia mendapatkan pekerjaan di suatu klinik praktek yaitu sebagai seorang asisten dokter. Tujuan Taylor memisahkan diri dari kenyamanan hidup yang dijalani sebelumnya adalah agar ia dapat membiasakan diri dengan kesendirian dan bahaya yang muncul dari hidup di suatu tempat asing di mana hanya Tuhan yang akan menemaninya. Ia memilih pekerjaan sebagai asisten dokter karena ia tahu pengetahuan medis akan sangat membantunya di Cina nanti. Usianya baru 19 tahun pada waktu itu.
Melihat pada integritas rohani Taylor sejak awal perjalanannya dengan Tuhan, tidaklah mengherankan bahwa Tuhan dapat memakainya dengan begitu luar biasa. Pada malam hari setelah tugasnya selesai, Taylor seringkali meluangkan waktu untuk bersaksi dan berdoa bagi tetangganya. Suatu malam, ia diminta untuk mendoakan seorang wanita yang sedang sakit. Suasana rumah wanita itu sangatlah murung, karena bukan saja ibu itu sakit tetapi anak-anaknya juga sedang dalam keadaan kelaparan. Waktu Taylor berdoa, sulit sekali baginya untuk mengucapkan kata-kata penghiburan karena terjadi pergumulan yang berat di dalam hatinya. Di dalam kantongnya ia memiliki sekeping koin perak yang dapat menjawab doa dan penderitaan keluarga miskin itu. "Munafik!" suara hatinya mengutuk dia. "Berbicara tentang Bapa Surgawi yang baik dan pengasih - tetapi saya sendiri tidak siap untuk mempercayai-Nya - untuk memberikan segala sesuatu yang saya miliki dan hidup tanpa uang sepeser pun!" Selesai berdoa, Taylor mengikuti suara hatinya dan memberikan uang koin satu-satunya kepada keluarga tersebut. Sepulang ke kamarnya ia menikmati hidangannya yang terakhir - semangkok bubur yang sudah dingin. Dengan memberikan uangnya kepada keluarga miskin itu, ia menjadi sama miskinnya dengan mereka. Walaupun ia tidak tahu apa yang harus dimakannya besok, ia teringat akan satu ayat di Kitab Suci yang berkata, "Dia yang memberi kepada orang miskin, memberi kepada Tuhan."
Keesokan harinya tanpa diduga ia menerima kiriman paket. Di dalamnya terkandung sekeping uang emas - nilainya 4 kali lebih besar dari uang perak yang diberikannya di malam sebelumnya. Taylor langsung berseru, "Itu bunga yang tinggi sekali! Ha! Ha! Saya berinvestasi di bank Tuhan selama dua belas jam dan ia mengembalikan ini! Itulah namanya bank!"
Di 'sekolah Tuhan' di daerah kumuh itu, Taylor belajar bahwa ia dapat percaya dan taat sepenuhnya kepada Tuhan dalam setiap sisi kehidupannya. Memang masih terlalu banyak yang harus dipelajarinya, tetapi pelajaran awal yang didapatnya adalah bahwa janji dan ucapan Tuhan dapat diandalkan. Pengalamannya di waktu itu mengajarkan kepadanya bahwa tidak ada yang lebih mendatangkan sukacita dibandingkan dengan doa dan jawaban terhadap doa. Ia telah belajar bagaimana untuk menggerakkan orang lewat doa. Ia tidak pernah meminta dari manusia untuk hal-hal materil. Semua kebutuhannya ia bentangkan di hadapan Tuhan.
Waktu Taylor mulai bekerja sebagai asisten dokter, dokter yang dengannya ia bekerja pernah berkata, "Taylor, ingatkan saya ya, kapan saya harus membayar upahmu. Karena sering terlalu sibuk dengan pekerjaan, saya pasti akan lupa." Dan dokter itu benar-benar lupa. Tetapi Taylor tahu bahwa di Cina nanti, ia tidak akan dapat meminta pada siapa pun, melainkan hanya kepada Tuhan. Jadi ia memutuskan untuk hanya meminta kepada Tuhan dan menyerahkan hal mengingatkan sang dokter ini pun kepada Tuhan.
Tiga minggu setelah itu sang dokter tiba-tiba teringat ia belum membayar gaji mingguan Taylor, tetapi pada malam itu ia kebetulan tidak punya uang karena semuanya sudah disetorkan ke bank. Taylor waktu itu telah sama sekali tidak memiliki uang dan ia harus membayar uang sewa kamarnya. Dan ia juga tidak memiliki uang untuk membeli makanan. Sepanjang hari itu sebetulnya ia sudah berdoa sambil bekerja agar sang dokter itu akan ingat. Sesuai doanya, sang dokter itu memang ingat tetapi ingat pada saat ia kehabisan uang! Pada malam itu Taylor bekerja sampai jam 10 malam, walaupun letih tetapi ia merasa lega karena setidaknya ia tidak perlu pulang lebih awal dan menghadapi tuan rumahnya yang pasti akan menagih uang sewa kepadanya. Waktu ia sedang berkemas untuk pulang, sang dokter tiba-tiba masuk ke ruangannya dan berkata, "Aneh sekali, pasien saya baru saja datang dan membayar tagihannya! Ia salah satu pasien saya yang paling kaya dan ia bisa saja membayar lewat cek kapan-kapan saja tetapi ia datang membayar dengan uang kontan jam 10 di malam minggu!" Lalu ia menambahkan, "Oh ya, Taylor, sebaiknya kamu ambil saja uang ini. Saya tidak punya uang receh, tapi gajimu yang selebihnya akan saya bayar minggu depan... Selamat malam!"
Doanya terjawab! Ia bukan saja punya uang untuk membayar sewa kamar tetapi juga uang makan untuk minggu yang akan datang. Ia telah membuktikan sekali lagi dalam kehidupan sehari-harinya bahwa Tuhan menjawab doa dan menggerakkan orang. Ia telah siap untuk pergi ke Cina!
Catatan: Hudson Taylor merupakan misionaris yang paling besar dipakai Tuhan di dalam sejarah penginjilan di Cina. Selama 51 tahun pelayanannya, China Inland Mission yang didirikanya membangun 20 pos misi, mengirim 849 misionaris, melatih 700 pekerja pribumi dan mengumpulkan dana sebanyak empat juta dolar dengan iman (mengikuti contoh George Mueller), dan mengembangkan gereja Cina dengan jemaat 125,000 orang. Diperkirakan setidaknya 35,000 jiwa merupakan hasil langsung pelayanannya dan ia membaptiskan sekitar 50,000 orang. Taylor memiliki karunia luar biasa untuk menginspirasi orang-orang Kristen untuk memberikan diri dan kekayaan mereka bagi Kristus.
Source:http://indonesia99.blogspot.com
Category Witnes of faith
Do the lives of Christian martyrs affect people today? There have been more than 23 thousand people arrested for their faith in China. Many died as martyrs who for their unyielding belief in Jesus Christ. Watchman Nee, who became one of those martyrs, led a ministry and life that was a large part of Christianity in China, as well as other countries.
Watchman Nee was born in Foochow, Fukien province, China. Although he was born to a family that was very familiar with the gospel, he rejected Jesus Christ for almost all of his adolescence. Trying to decide whether or not to believe in the Lord, he began to pray. Suddenly the magnitude of his sins and the reality of Jesus engulfed him and on the 29th of April 1920, when Nee was 17, he accepted Christ alone in his bedroom. His original name, Shu-Tsu, was changed shortly after to To-Sheng, meaning the sound of a watchman alerting others to danger. This is how the name Watchman Nee derived.
After this life-changing event, Watchman Nee constructed his life around God. He buried himself in Christian literature (developing a collection of 3,000 Christian books), read Bible expositions, and had a heightened knowledge of church history. While others were reading novels in class, Nee was reading his Bible. He later left school to enter Dora Yu's Bible Institute in Shanghai. Because of his large appetite, and frequent late risings, he was asked to leave the institute. He then returned to school and graduated from Anglican Trinity College.
Watchman Nee had a twofold burden and commission that he successfully fulfilled: (1) to bear a testimony of the Lord Jesus and (2) to establish local churches. He began this task by traveling with Christians to share the gospel with people who had never heard of Jesus Christ. His deep, personal knowledge and experience of Christ's resurrection lead to the publication of numerous written messages and books. Focusing on the establishment of churches, he started small meetings in someone's house. When the group grew large enough, a building would be found to accommodate them. These house churches became known as the "Little Flock" as they spread throughout China.
While remaining faithful to the commission brought upon him, Nee endured a great deal of suffering. During his early years of ministry, Nee believed that he was to live purely for God and refused all employment opportunities that were offered to him. Ill health was another source of suffering that frequently struck Nee. Tuberculosis, chronic stomach disorder, angina pectoris (heart ailment) were some of the largest obstacles of Nee's health. Although there was much endured, sickness was not the only source of affliction for Nee. His largest concern was the number of brothers and sisters meeting with the local churches. Many of them caused trouble due to various things such as immaturity and incompetence. When Nee preached about preserving the truth of the Scriptures he protested aspects of denominational ministries, which in turn led to a temporary excommunication from the church in his hometown. When Communists came to power in the late 1940's Nee became an obvious target because of his growing Christian ministry and belief, which contradicted that of the Communist Party. In 1952, Nee was arrested for his faith and for his leadership among churches. He was imprisoned in 1956 under a fifteen-year sentence. In the confinement of his cell, Watchman Nee died on May 30, 1972.
Watchman Nee's ministry and involvement with churches was a big part of Christianity in China. His books are readily available today in many countries and are frequently used for bible studies. House churches like the "Little Flock" are becoming more prevalent in China everyday. Although he is no longer here, it is clearly evident that Watchman Nee's legacy still lives.
source: http://www.hyperhistory.net
Category Witnes of faith
Pada awal abad ke-16, banyak misionaris yang berasal dari Amerika
dan Eropa diutus ke negeri Cina. Pada Tahun 1987, terjadi bentrokan
antara Perkumpulan Pedang Besar dengan umat Kristen sehingga jatuh
dua korban jiwa berkebangsaan Jerman, dan berakibat didudukinya kota
pelabuhan Kiao Chou oleh Jerman. Kemudian pemimpin dari Perkumpulan
Pedang Besar mengganti nama perkumpulannya menjadi Tinju Keadilan
dan Keserasian, dengan slogannya yang berbunyi "Lindungi Qing,
bantai orang asing".
Peristiwa inilah yang kemudian memicu terjadinya pemberontakan
anti orang asing yang terkenal dengan nama Pemberontakan Boxer di
Cina. Pada masa ini, banyak orang Kristen yang mati syahid. Namun
demikian, Allah menggerakkan para pekerja-Nya yang juga berasal dari
negara Cina itu sendiri. Banyak pemberita Injil lokal yang bangkit
memerluas berita Injil, salah satu di antaranya adalah Watchman Nee.
Watchman Nee lahir pada tanggal 4 November 1903 di Foochow, tenggara
Cina. Ibunya yang bernama Piece Lin sudah memiliki dua anak
perempuan saat mengandung Watchman Nee. Saat itu dalam tradisi Cina,
anak laki-laki lebih disukai dibandingkan anak perempuan. Oleh
karena itu, timbul kekuatiran dalam hati Piece Lin, kalau-kalau anak
ketiganya ini adalah anak perempuan lagi. Ditambah lagi, banyak
orang yang mengatakan kepadanya bahwa ia akan mengalami hal yang
sama dengan saudara perempuan suaminya, yang melahirkan enam anak
perempuan. Oleh karena itu, Piece Lin berdoa kepada Tuhan, kalau ia
memunyai anak laki-laki, maka ia akan memersembahkannya kepada
Tuhan. Doanya pun dikabulkan oleh Tuhan dan ia melahirkan seorang
anak laki-laki yang diberi nama Henry Nee.
Akhirnya keluarga Nee Weng Shiu, ayah Henry Nee, dikaruniai oleh
Tuhan empat orang anak laki-laki dan dua orang anak perempuan.
Sebelum mengalami kelahiran baru, Henry Nee adalah seorang anak yang
berkelakuan buruk, namun demikian ia adalah seorang anak yang
cerdas. Ia selalu menduduki peringkat pertama mulai dari sekolah
dasar sampai saat ia bersekolah di Anglican Trinity College di
Foochow.
Ia mulai menaruh perhatian serius terhadap kekristenan pada saat ia
melihat perubahan hidup ibunya yang sungguh-sungguh mengalami
kelahiran baru. Ia mulai menghadiri kebaktian yang dipimpin oleh
Dora Yu, seorang wanita yang melepaskan kariernya sebagai seorang
dokter dan menjadi seorang penginjil. Ia mulai mengalami pergumulan
batin karena ada konflik dalam pikirannya antara mengikut Tuhan atau
membina kariernya.
Akhirnya pada tanggal 29 April 1920, ia memperoleh kemenangan
rohani, bertobat, dan mau mengikut Tuhan seumur hidupnya. Dan sesuai
dengan tradisi bangsa Cina untuk memilih nama baru sesudah mengalami
perubahan dalam hidupnya, ia mengganti namanya dari Henry Nee
menjadi Nee To-Sheng (giring-giring penjaga) atau dalam bahasa
Inggrisnya Watchman Nee. Ia memilih nama ini karena menganggap
dirinya sebagai seorang penjaga yang memberi tanda dan panggilan di
tengah kegelapan malam.
Diperlengkapi dan Dilatih Oleh Tuhan
Watchman Nee tidak pernah belajar di sekolah teologi. Wawasan iman
dan teologinya ia peroleh dengan membaca bacaan-bacaan rohani yang
ia dapat dari Margaret Barber, seorang misionaris Anglican.
Buku-buku rohani yang ia baca, antara lain Pilgrim's Progress karya
John Bunyan, Biografi Hudson Taylor dan Madame Guyon, The Spirit of
Christ karya Andrew Murray, Autobiografi George Muller, Church
History karya John Foxe, dan sebagainya. Ia benar-benar seseorang
yang tekun menggali firman Tuhan.
Pada masa-masa awal pelayanannya, ia membagi uang yang ia dapat
menjadi 1/3 untuk kebutuhan pribadinya, 1/3 untuk membantu
sesamanya, dan sisanya untuk membeli buku-buku rohani. Ia memeroleh
lebih dari tiga ribu buku Kristen yang bermutu, termasuk karya-karya
tulis orang-orang Kristen pada abad pertama.
Persekutuannya dengan Barber mengilhaminya untuk tetap setia dengan
radikal terhadap salib dan mengobarkan semangatnya terhadap firman
Tuhan. Setelah itu, persahabatannya dengan Miss Barber dan biografi
Hudson Taylor yang ia baca, memengaruhi hubungannya dengan uang. Ia
mengetahui komitmen Taylor yang hanya menceritakan kebutuhan
finansialnya kepada Tuhan saja. Ia juga melihat Barber hidup dengan
prinsip tersebut. Ia amat terkesan dengan cara-cara yang Tuhan
lakukan untuk mencukupkan kebutuhan finansial Barber. Hal ini
membuatnya semakin bertekad untuk menyerahkan segala kebutuhan
hidupnya kepada Tuhan.
Setelah bertobat, ia mulai terbeban untuk memberitakan Injil kepada
teman-teman di sekolahnya. Ia menulis nama tujuh puluh temannya dan
secara teratur mendoakan mereka satu persatu setiap hari. Dalam
beberapa bulan, hanya satu dari antara mereka yang tidak mengalami
kelahiran baru! Mereka mulai mengadakan persekutuan doa di kapel
Trinity dan persekutuan ini terus berkembang hingga meluber sampai
ke jalanan di Foochow. Mereka juga kerap membagikan brosur yang
berisi berita mengenai jalan keselamatan kepada orang-orang yang
mereka temui di jalan. Setelah Pemberontakan Boxer, timbul gerakan
anti Kristen (kebencian bersifat politik yang berkembang di Cina
terhadap segala hal yang berbau Barat). Banyak pemimpin gereja yang
mendapat tekanan dari pemerintah Cina agar berkompromi dalam
beberapa hal.
Dengan demikian, Watchman Nee yang dicap sebagai pengkhotbah
"radikal" mulai disingkirkan oleh rekan-rekan pelayanannya. Karena
kecewa, ia pindah ke Ma-hsien, sebuah desa nelayan yang tidak jauh
dari misi Barber. Di sini, ia terus mempelajari firman Tuhan secara
lebih mendalam. Watchman Nee melihat banyak kaum muda yang yang haus
dan lapar akan firman Tuhan karena kondisi gereja telah berubah
menjadi menjadi sekularisme agama yang suam dan melumpuhkan gerakan
Roh Kudus. Ditambah lagi dengan perasaan anti barat, anti Kristen,
dan semangat nasionalisme menguasai banyak rakyat Cina.
Pemahamannya yang mendalam terhadap firman Tuhan membuatnya semakin
teguh meresponi panggilan Tuhan. Ia bertekad untuk terus
memberitakan Injil dan mendirikan gereja-gereja lokal yang memiliki
pemahaman yang benar terhadap Injil.
Tahun pertama dari sebelas tahun masa pelayanannya dimulai dengan
deraan penyakit TBC yang parah (tahun 1922). Dokter bahkan telah
memvonis bahwa ia hanya akan bertahan hidup selama enam bulan saja.
Melihat kondisinya yang parah, teman-temannya membawanya ke tempat
misi Barber agar memeroleh perawatan. Meskipun sedang sakit parah,
ia tidak mau menyerah. Perlahan-lahan, ia berhasil menyelesaikan
bukunya yang berjudul manusia rohani. Sakitnya kian bertambah parah,
namun firman Tuhan di dalam 2 Korintus 1:2; "Dengan iman kamu
berdiri teguh" dan Markus 9:23; "Tidak ada yang mustahil bagi
Allah", muncul dengan jelas dalam pikirannya. Ia lalu bangkit dari
tempat tidurnya dan berjalan menuju rumah sahabatnya. Setiap
langkah, ia berseru, "Berjalan dengan iman; berjalan dengan iman!"
Saat itulah Tuhan menyembuhkannya secara ajaib.
Setelah kesehatannya pulih kembali, ia memutuskan untuk memindahkan
pusat pelayanannya ke kota Shanghai. Di kota ini, ia mulai merintis
pendirian gereja lokal di Hardoon Road. Gereja ini mulai bertumbuh,
dan dalam waktu singkat menjadi pembicaraan orang dari seluruh
pelosok provinsi, bahkan sampai ke Inggris. Charles Barlow, salah
seorang anggota London Group of Brethen, berkunjung ke Shanghai.
Laporannya tentang kehidupan rohani dan perkembangan gereja di
Hardoon Road membuat Group of Brethren, London, mengirim satu tim
menuju gereja tersebut. Mereka mengundang Watchman Nee untuk datang
ke Inggris. Nee menyanggupinya, dan pada usia tiga puluh tahun ia
meninggalkan Cina dan menuju Inggris.
Tanggal 19 Oktober 1934, Watchman Nee menikah dengan gadis
idamannya, Charity Chang. Namun bibi Charity di Shanghai, melalui
surat kabar nasional, menyerang karakter Watchman Nee. Ia dituduh
melakukan transaksi yang curang dengan para investor asing. Hal ini
memberikan kesempatan kepada "musuh-musuh" Watchman Nee untuk
membagi-bagikan artikel yang menyerang pribadi Watchman Nee. Ia
sempat mengalami depresi, namun dukungan teman-teman setianya dan
pertolongan Roh Kudus membuat ia bangkit kembali.
Bersama rekan-rekannya, ia lalu mencurahkan waktu untuk merintis
jemaat lokal. Pada tahun 1937, ia diundang untuk memberitakan Injil
di Manila.
Pada saat yang bersamaan, Jepang mulai menduduki Cina. Bersama
istrinya, Watchman Nee bergegas menuju Hong Kong, yang merupakan
lokasi tempat tinggal orang tua Watchman Nee. Di Hong Kong, ia
berjumpa dengan rekan-rekan misionaris yang memintanya datang lagi
ke Inggris. Selama empat bulan di Inggris, ia memberikan pelayanan
pengajaran dan penulisan buku-buku rohani. Ia kembali mengalami
dukacita saat menerima surat dari istrinya, yang memberitahukan
bahwa kandungannya mengalami keguguran. Ia ingin segera kembali ke
Cina, namun perang Sino-Jepang memaksanya tinggal lebih lama.
Tahun 1941, Jepang kembali melancarkan serangan hebat terhadap kota
Shanghai. Gereja di Shanghai mengalami kondisi yang buruk saat
Jepang akan menyerang Hong Kong, Watchman Nee menerima kabar
kematian ayahnya dan kembali ke Hong Kong untuk mengatur upacara
pemakaman ayahnya. Saat kembali ke Shanghai, ia mengalami krisis
keuangan yang sangat parah, namun Tuhan senantiasa menolongnya.
Watchman Nee menerima bantuan dari sumber-sumber yang tidak terduga.
Sebagian bantuan berasal dari orang-orang Kristen di Inggris.
Saudara Watchman Nee, George, memintanya untuk menjadi mitra dalam
mendirikan pabrik farmasi. Awal tahun 1942, pabrik tersebut pun
didirikan. Banyak rekan kerja Watchman Nee yang bekerja paruh waktu
di pabrik tersebut untuk memenuhi kebutuhan hidup dan pelayanan
mereka. Keputusan Watchman Nee untuk bertindak seperti Rasul Paulus
yang melayani dan bekerja sendiri, membuat rekan-rekannya yang
berpikiran sempit melarangnya untuk berkhotbah di gereja. Ia
kemudian memindahkan pabriknya ke Chungking. Di sana, ia membuka
pelatihan bagi hamba-hamba Tuhan yang berasal dari kaum awam.
Bisnisnya amat berhasil, tetapi Watchman Nee tetap meluangkan waktu
menjadi penginjil keliling. Atas usaha Witness Lee, para penatua di
Shanghai sadar akan kelakuan mereka yang tidak terpuji terhadap
Watchman Nee. Mereka kemudian mengundang Watchman Nee untuk memimpin
sebuah konferensi Alkitab di Hardoon Road. Lebih dari 1.500 orang
hadir untuk mendengarkan gembala mereka menyampaikan firman Tuhan.
Tanggal 31 Januari 1949, Tentara Pembebasan Rakyat pimpinan Mao Tse
Tung memasuki Beijing. Ini adalah langkah awal berkuasanya kaum
Komunis di Cina. Setelah Komunis berkuasa, Chou En-Lai yang menjabat
sebagai perdana menteri, mengumpulkan para pemimpin gereja dan
menerbitkan "Christian Manifesto for the Protestant Churches" yang
berisi prinsip-prinsip gerakan kekristenan baru. Sejak saat itu,
gereja mulai terikat akan peraturan-peraturan Komunisme.
21 April 1951, ribuan cendekiawan Shanghai mulai ditangkap. Pada
tanggal 10 April 1952, giliran Watchman Nee yang ditangkap. Ia
dituduh melanggar dan menentang "Tiga Gerakan Reformasi Diri Gereja
Kristen". Ia mulai mengalami aniaya yang berat, sementara itu
istrinya mengalami tekanan batin dan nyaris mengalami kebutaan
akibat penyakit darah tinggi yang dideritanya. Ia menjalani
perawatan dan berada di bawah pengawasan polisi. Watchman Nee sudah
menjalani hukuman selama lima belas tahun, namun masih ditambah lima
tahun lagi. Charity Chang, istrinya telah dibebaskan dengan kondisi
kesehatan yang buruk dan menanti kepulangan suaminya di Shanghai.
Namun hanya enam bulan menjelang tanggal pembebasan suaminya, ia
terjatuh dan mengalami luka-luka parah yang mengakibatkan ia
meninggal dunia. Ini membuat duka yang mendalam bagi Watchman Nee.
Selama berada di penjara, ia ditugaskan menerjemahkan buku-buku ilmu
pengetahuan dari bahasa Inggris ke dalam bahasa Cina.
Tanggal 12 April 1972, Watchman Nee menyelesaikan masa hukumannya,
tetapi ia masih belum dibebaskan. Akhirnya, pada tanggal 1 Juni
1972, Watchman Nee meninggal dunia dalam penderitaan dan kesendirian
karena mengalami sakit jantung yang kronis ditambah dengan siksaan
yang ia alami. Kemudian, jazadnya pun dikremasi. Saudara perempuan
istrinya yang tertua menerima kabar kematiannya dan meminta abu
jenazah Watchman Nee dikuburkan bersama dengan istrinya di Kwanchao,
kota Haining di provinsi Chekiang.
Watchman Nee telah tiada. Ia kini berada di surga dengan Allah Bapa
dan mengalami sukacita kekal. Selama pelayanannya, diperkirakan ada
kurang lebih empat ratus gereja lokal yang dirintis dan didirikan
olehnya. Lebih dari tiga puluh gereja lokal berdiri melalui
pelayanannya di Filipina, Singapura, Malaysia, Thailand, dan
Indonesia. Hari ini Tuhan berkarya melalui gereja-gereja tersebut
dan berkembang menjadi lebih dari 2300 gereja di seluruh dunia.
Daftar Pustaka:
1. Kesaksian Watchman Nee. Bahan-bahan yang dikumpulkan oleh Kwang
Hsi Weigh, Yayasan Perpustakaan InjiI, Surabaya 1974.
2. Watchman Nee Hamba Tuhan Yang Menderita, Adonai Publishing, 2000.
3. www.Watchmannee.org/life-ministry.html
Diambil dan disunting seperlunya dari:
Judul majalah: Cahaya Buana, Edisi 93, Tahun 2003
Judul asli artikel: Watchman Nee
Penulis: Tidak Dicantumkan
Penerbit: Komisi Literatur GKT III, Malang 2003
Halaman: 11 -- 13
Category Witnes of faith
